Powered By Blogger

Senin, 01 November 2010

Jovo Akan Ubah Formasi


Tidak akan diperkuat Eka Ramdani dan Nova Arianto saat melawan PSPS Pekanbaru pada Kompetisi Liga Super Indonesia 2010-2011, Selasa (2/11), membuat pelatih Jovo Cuckovic berpikir keras. Ia tetap mengejar kemenangan agar bisa mendongkrak posisi Persib dalam klasemen, meski PSPS akan bermain penuh motivasi di hadapan pendukungnya sendiri. Melihat kondisi tersebut, Jovo akan mengubah formasi pemain. Jika selama ini formasi yang diterapkan 4-4-2, pelatih asal Serbia itu akan mengganti menjadi 4-3-1-2. Formasi ini tetap menyerang, hanya akan membedakan tugas pemain di lapangan. "Tidak ada Eka dan Nova, maka saya harus memaksimalkan pemain yang ada untuk meraih kemenangan. Bukannya saya tidak percaya kepada para pemain muda dan pemain lainnya, tetapi jika mereka diturunkan dalam kondisi saat ini, bisa-bisa mereka kaget. Lagi pula kita tidak punya pemain tengah yang kemampuan dan posisinya sebagai pembagi bola dan pengatur serangan seperti Eka," ujar Jovo.

Perubahan itu tergambar pada sesi uji coba lapangan Stadion Kaharuddin Nasution, Senin (1/11) pagi. Dalam latihan itu, Jovo memisahkan pemain dalam dua kelompok. Pemain yang kemungkinan tampil melawan PSPS, menggunakan rompi adalah Wildansyah, Baihakki Khaizan, Maman Abdurahman, Isnan Ali, Hariono, Shahril Ishak, Atep, Airlangga Sutjipto, Cristian Gonzalez, dan Pablo Frances. Sementara materi pemain tanpa rompi dihuni Gilang Angga, Yudi Khoerudin, Dias Angga, Munadi, Rendi Saputra, Siswanto, Jejen Zaenal, dan Rachmat Afandi.

Jovo tetap optimistis para pemain tetap akan tampil maksimal meski kondisi lapangan kurang mendukung untuk bermain cepat dan umpan pendek akurat. "Ini ada pertandingan luar kota sesi kedua, masa mereka (pemain) tidak bisa bangkit dari kerterpurukan. Dengan absennya Nova dan Eka, mereka para pemain yang selalu duduk di bangku cadangan harusnya bisa lebih termotivasi untuk menunjukkan diri bahwa mereka pantas untuk menjadi pemain pilihan utama ketika Persib bertanding," ujarnya.

Berbeda dengan Jovo, pelatih PSPS Abdurahman Gurning mengatakan bahwa timnya tidak mengalami kendala apapun. PSPS sudah siap untuk menjamu Persib di Stadion Rumbai dan berusaha mengamankan poin di kandang sendiri. "Kami sudah siap, kami optimistis bisa mengalahkan Persib di sini. Pemain pun akan bermain maksimal dan tak ingin mengalami kekalahan kedua," ujarnya usai memimpin latihan PSPS di Stadion Rumbai.

Tim Persib melakukan uji coba lapangan di stadion pukul 9.00 WIB. Dari hotel tempat menginap rombongan bertolak pukul 8.00 WIB dan melakukan perjalanan selama kurang lebih 45 menit ke stadion. Setibanya di stadion, tim langsung melakukan "briefing" selama 5 menit dan kemudian dilanjutkan dengan pemanasan dan peregangan serta melakukan game internal. ***

Baru Dua Pemain Bisa Cetak Gol


DARI tujuh kunjungannya ke Pekanbaru untuk menghadapi tuan rumah PSPS, Persib Bandung praktis tak pernah sekalipun pulang dengan membawa kemenangan. Setelah sempat bermain imbang tanpa gol pada kunjungan pertamanya di Liga Indonesia (LI) VI/1999-2000, selanjutnya Persib selalu pulang dengan membawa kekalahan. Entah apa yang menjadi penyebab sulitnya Persib menang di Pekanbaru. Namun, cuaca panas yang hingga petang selalu menyengat di kota minyak tersebut, hampir selalu dikeluhkan para pemain Persib setiap kali mengalami kekalahan.

Bukan hanya sulit menang, para pemain Persib pun selalu mengalami kesulitan mencetak gol di Stadion Kaharuddin Nasution, kandang PSPS yang dulu lebih dikenal dengan nama Stadion Rumbai ini. Dari tujuh kali pertemuan, baru dua pemain Persib yang bisa mencetak gol di stadion ini, yaitu Uilian Souza Da Silva dan Asep Dayat pada LI XI/2005. Ketika itu, Persib tetap kalah 2-4.***

REKOR PERTEMUAN PSPS-PERSIB DI PEKANBARUMusim Tanggal Skor Pencetak Gol
LI LI/1999-2000 30-04-2000 0-0 -
LI VII/2001 22-02-2001 1-0 Ebwelle Bertin '33 (PSPS)
LI VIII/2002 24-02-2002 3-0 Lilik Suheri '1, Simon Atangana '45, Felipe A. Cortez '90 (PSPS)
LI IX/2003 07-05-2003 1-0 Kurniawan Dwi Yulianto '66 (PSPS)
LI X/2004 15-08-2004 2-0 Joe Nagbe '62, '82 (PSPS)
LI XI/2005 03-08-2005 4-2 Rochi Putiray '10, Rodrigo Sanhueza 22, Ever Barientos '52, Mulyadi '83 (PSPS), Ullian Souza Da Silva '21, Asep Dayat '80 (Persib)
LSI 2009-2010 21-03-2010 3-0 Cyril Emile Tchana '24, Herman Dzumafo Epandi '31-pen. Rusdianto '89 (PSPS)

Latihan di Halaman Parkir Hotel


Untuk menyeimbangkan kondisi fisik, pemain yang tidak main penuh dan absen saat melawan Persija Jakarta, Sabtu (31/10) melakukan latihan khusus saat tiba di Pekanbaru Riau, Minggu (31/10). Setelah bertemu Persija, Persib akan berhadapan dengan PSPS Pekanbaru, Selasa (2/11), dan rombongan tiba di kota tersebut, Minggu siang. Para pemain seperti Cecep Supriyatna, Dadang Sudrajat, Munadi, Baihakki Bin Khaizan, Dias Angga, Rendi Saputra, Isnan Ali, Yudi Khoerudin, Gilang Angga, Siswanto, Jejen Zaenal Abidin, Airlangga Sutjipto, dan Rachmat Afandi berlatih di halaman parkir Hotel Resty Menara. Latihan yang berlangsung selam satu jam tersebut diisi dengan pemanasan, peregangan, game kecil "4-2", dan diakhiri dengan pelemasan. Latihan ini merupakan salah satu upaya untuk menjaga kondisi para pemain tersebut tetap bugar dan lentur.

Latihan dipimpin asisten pelatih Robby Darwis dan pelatih kiper Anwar Sanusi karena Jovo Cuckovic harus berkonsentrasi menyusun program latihan Senin (1/11) pagi, saat uji coba lapangan. Meski berlatih di halaman parkir hotel yang beralaskan beton dan tembok semen, latihan berjalan dengan lancar dan penuh keceriaan. Menurut Robby latihan ini berfungsi untuk menjaga kondisi pemain agar tidak turun. "Bagi para pemain yang tidak diturunkan atau hanya bermain setengah babak saat pertandingan kemarin, kami sengaja memberikan porsi latihan ringan agar kondisi fisik dan mental mereka tetap terjaga dengan baik untuk menghadapi pertandingan selanjutnya," ujarnya.

Anwar Sanusi menambahkan berlatih di halaman parkir bukanlah tempat yang direncanakan sejak awal. Namun sebagian pemain yang memang diwajibkan berlatih, tetap melakukan latihan untuk menyesuaikan kondisi dengan pemain yang kemarin turun bertanding dengan waktu penuh. Anwar mengatakan, dengan latihan geme kecil seperti ini akan membuat badan dan pikiran pemain lebih segar. "Rencananya kita akan menggunakan lapangan rumput untuk latihan, tetapi lapangan tersedia kurang bagus untuk dipakai latihan. Selain melatih kemampuan individu dan kekompakan kelompok, latihan 'conditioning' juga bagus dalam meningkatkan kondisi psikologis pemain," ujarnya.

Stopper muda Persib, Yudi Khoerudin mengatakan bahwa latihan game kecil "4-2" cukup penting, terlebih dengan aturan menggunakan satu sentuhan. Hal itu dapat mengasah kemampuan pemain dalam hal pengambilan keputusan, respon terhadap bola dan kawan serta lawan. "Tidak masalah mau berlatih dimanapun, game '4-2' adalah game yang paling mudah dan cocok untuk tetap menjaga kondisi fisik dan kemampuan pemain. Meski waktunya hanya sebentar, dapat membuat kita tetap bergerak, mengeluarkan keringat, dan membuat otot-otot tidak kaku," ujarnya.

Rombongan Persib menggunakan Lion Air dan tiba di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru pukul 11.30 WIB. Tim yang berangkat tanpa Nova Arianto karena terkena akumulasi kartu kuning, dijemput oleh pihak Panpel PSPS dengan menggunakan bus dan langsung menuju hotel Resty Menara Jl. Sisingamangaraja No. 89, di daerah Hangtuah Pekanbaru. ***

Jovo Cuckovic Lakukan Pembelaan


Pelatih Jovo Cuckovic dalam posisi tidak nyaman di kursi pelatih Persib. Pascakekalahan dari Persija 0-3, seperti dilansir dari beberapa media, nasibnya di Persib akan ditentukan setelah hasil pertandingan melawan PSPS Pekanbaru, Selasa (2/11). Pelatih asal Serbia ini melakukan pembelaan atas rencana manajemen Persib tersebut. Menurut Jovo, ketika Persib kalah, hampir semua pihak menyalahkan dirinya, sehingga dia merasa tersudutkan. "Sepertinya mereka tidak melihat kesulitan yang saya hadapi untuk melatih dengan serius dan secara profesional," ujarnya.

Menurut Jovo, semua mengatakan Persib adalah tim besar yang dihuni pemain-pemain bintang kelas satu Indonesia. Namun, dia hanya melihat pemain-pemain bintang di luar lapangan. "Memang saya akui mereka adalah pemain-pemain tim nasional, tetapi ketika bermain untuk Persib, mereka masih membawa label mereka sebagai pemain nasional bukan bermain sebagai pemain Persib," ujarnya. Ia menambahkan sebuah kesulitan yang amat sangat kompleks, tim sebesar Persib tidak memilki infrastruktur pendukung yang layak. Sebagai contoh adalah lapangan. Persib tidak memiliki lapangan milik sendiri yang layak untuk berlatih. Kebanyakan lapangan yang dipakai untuk latihan tidak memenuhi syarat untuk berlatih. Lapangan itu keras, tidak rata, atau tidak bisa digunakan karena sedang dalam perbaikan.


"Bagaimana bisa menjalankan program latihan saya kalau untuk berlatih kita masih mencari-cari lapangan. Tenaga dan konsentrasi pemain sudah menurun dan habis dalam perjalanan menuju tempat latihan. Program latihan saya pun terkendala ketika latihan ditunda atau dibatalkan tiba-tiba hanya karena lapangan tidak bisa dipakai akibat cuaca yang terus-menerus hujan. Meski kita tidak bisa melawan kondisi cuaca, seharusnya ada alternatif lain yang dapat dijadikan solusi ketika lapangan tidak bisa dipakai," kata Jovo.

Infrastruktur yang tidak mendukung, kata Jovo, akan mengakibatkan pelatih dan pemain kesulitan untuk melakukan perkembangan baik dalam latihan maupun dalam pertandingan. Lapangan yang selalu berpindah-pindah bukan saja menggangu konsentrasi dan menurunkan semangat latihan para pemain, tetapi juga bisa membuat pemain enggan untuk berlatih maksimal karena takut mengalami cedera. Contohnya di mes Persib saat berlatih untuk persiapan melawan Persija. Lapangan di sana sangat keras dan tidak layak untuk dipakai sebagai lapangan berlatih taktik dan strategi. "Permasalahan utama saja tidak diperhatikan, bagaimana dengan nasib perkembangan teknik dan kemampuan berkonsolidasi tim," ujarnya.

Jovo mengutarakan banyak yang bertanya kepada dirinya tentang penerapan strategi dan taktik. "Saya katakan, berikan saya bola, peralatan latihan untuk variasi latihan, lapangan yang layak dan semua pemain tanpa terkecuali, maka saya bisa konsentrasi penuh untuk menerapkan taktik dan strategi. Terlalu banyak pemain yang absen secara bergantian, bagaimana saya bisa menerapkan strategi dan taktik permainan untuk dipahami seluruh pemain jika setiap latihan selalu saja ada yang tidak bisa mengikuti latihan dengan berbagai alasan seperti cedera, sakit, ada keperluan pribadi, dipanggil timnas dan lain-lain."

Ia pernah bertanya kepada manajemen kenapa lapangan di mes tidak dimaksimalkan sebagai tempat latihan. Di sana fasilitas sudah ada seperti kamar tidur, ruang "meeting", ruang makan, dapur, lampu lapangan, dan tempat-tempat kosong untuk dijadikan pos-pos ruangan lain seperti ruang medis yang layak, ruang fitness dan lain-lain. Dengan begitu, semua bisa berkumpul di sana. Di lain pihak, saat ini semua pemain tidak dalam satu rumah. Itu yang menjadikan mereka harus mengeluarkan tenaga dan konsentrasi ekstra ketika menjalankan agenda latihan, dan dia pun mengalaminya.

"Tidak masalah buat saya jika saya harus tinggal di mes, asalkan semua pemain pun ada di sana. Itu lebih mudah buat saya untuk bekerja. Untuk lapangan, kita bisa mengganti dengan rumput sintetis. Memang rumput sintetis harganya mahal, tetapi itu garansi untuk 50 tahun ke depan. di Eropa bahkan di negara-negara Asia yang menginginkan perkembangan tim sepabolanya maju pesat, mereka semua menggunakan lapangan denga rumput sintetis. Tidak ada alasan hujan, panas, salju atau rumput yang tidak rata, latihan akan tetap bisa berjalan pagi, siang, sore bahkan malam hari. Jika sudah ada lapangan dengan rumput sintetis, maka tidak perlu lagi ada pengeluaran uang untuk membeli solar dan menyewa lapangan. Saya akan pastikan para pemain pun akan lebih konsentrasi dan semangat untuk berlatih. Jika latihan maksimal, saya yakin saat bertanding pun mereka akan lebih maksimal," ujarnya***

Nova Absen Lawan PSPS


Bek tengah Nova Arianto absen saat Persib melawan PSPS Pekanbaru pada Kompetisi Liga Super Indonesia (LSI) 2010-2011, Selasa (2/11) di Stadion Kaharuddin Nasution Pekanbaru. Nova mendapat sanksi larangan sekali bertanding karena akumulasi kartu kuning. Nova juga diharuskan membayar denda Rp 3 juta. Dalam pertandingan melawan Persija, Sabtu (30/10), Nova mendapat kartu kuning. Katu kuning pertama yang diterimanya ketika Persib melawan tuan rumah Deltras Sidoarjo, 2 Oktober lalu.

Pengganti Nova belum ditentukan. Namun, Baihakki Bin Khaizan yang absen melawan Persija, sudah bisa dimainkan. Spesialisasi Baihakki sebenarnya di stopper, tetapi di Persib main pada posisi bek kanan. Selain ada Baihakki, masih ada Yudi Khoerddin. ***

Kamis, 28 Oktober 2010

"Si Banteng" Tergolek Lemas


Kelihaian menyisir di sayap kiri lapangan, membuat R.E Suhendar menjadi salah satu nama yang paling disegani saat Persib berada pada zaman keemasan Kompetisi Perserikatan tahun 60-an. Hampir tidak ada yang dapat menghentikannya jika dia sudah menggirin bola untuk menusuk ke jantung pertahanan lawan. Hal itu membuat dia oleh rekan setimnya dijuluki "Si Banteng". Saat itu, dia bermain bersama Simon Hehanusa, Hermanus, Juju (kiper), Ishak Udin, Iljas Hadade, Rukma, Fatah Hidayat, Sunarto, Thio Him Tjhaiang, Ade Dana, Hengki Timisela, Wowo Sunaryo, Nazar, Omo Suratmo, Pietje Timisela, dll.

Julukan "Banteng" ini karena dia memiliki kecepatan dan badan besar, sehingga tahan bantingan. Posisi spesialisnya di sayap kiri makin sulit tergantikan karena dia juga memiliki spesialis tendangan kaki kiri sangat keras. Saat itu, Persib dihuni materi pemain berkualitas di semua lini sehingga berhasil menjadi juara pada Kompetisi 1961, setelah mengalahkan Persija Jakarta 3-1. Penampilannya yang gemilang itu membuat pria kelahiran Bandung 21 Maret 1938 ini terpilih masuk timnas Indonesia di bawah pelatih asal Yugoslavia Tony Poganic.

Namun, kini dia tidak seperkasa dulu lagi. Ia terserang sakit stroke dan membuatnya tergolek lemas di rumahnya di Jln. Moh. Toha belakang 315, Gg. Hanafiah 205/203 Bandung. Kulitnya terlihat sudah menempel di tulang sekujur tubuh. Ia lebih banyak diamn dan dirawat istri tercintanya, Mien Tarmilah sembari melakukan rawat jalan di RS Immanuel. Menurut Mien, kondisi tubuh suaminya dulu terkenal besar dan kekar. Namun, setelah terserang stroke akibat kadar kolesterol yang tinggi, kini berat badannya pun sudah menyusut drastis. "Dulu bapak dikenal karena badannya yang tinggi dan besar, tetapi sejak terserang stroke dan karena faktor usia juga, berat badannya menyusut hampir 20 kg," ujarnya.


Mien menceritakan, sebelum terserang stroke tiga minggu lalu, Suhendar yang mempunyai bisnis jual-beli motor bekas setelah berhenti melatih, masih sempat menjalankan aktifitas seperti biasanya yaitu mengontrol keadaan sekitar toko atau pun berjalan-jalan di daerah rumah untuk berbincang-bincang dengan tetangga. "Beruntung bapak dulu adalah olahragawan. Dokter pun sempat tidak percaya ketika memeriksa kondisi tubuh bapak, dengan usia yang menginjak 73 tahun ini bapak masih kuat beraktifitas meski mengidap penyakit paru-paru yang sering membuatnya sesak nafas," ujarnya.

Berbicara mengenai Persib, Suhendar yang ditemani istrinya bercerita tentang perjalanan hidupnya saat masih mengabdi kepada Persib. Meski ingatannya sudah berkurang karena faktor usia, Suhendar sangat bersemangat dan antusias menceritakan betapa kompak, hebat, dan ditakuti Persib pada zaman dia masih bermain. Ia sangat menyayangkan kepada para pemain Persib sekarang yang sudah memasuki tahap profesional, tetapi masih mengeluh dan tidak mau bekerja keras di lapangan, "Dulu ketika zaman saya, wowo, Omo, dan Pietje main, prestasi yang didahulukan baru hadiah. Generasi Robby Darwis (tahun 80-an) adalah pengulangan prestasi zaman saya," ujarnya.

Selain berkiprah ditingkat nasional bersama Persib, ia pun turut serta bersama Persib untuk mewakili PSSI di ajang Kejuaraan “Piala Aga Khan” di Pakistan pada 1962. Prestasi yang ditunjukkan ternyata bukan hanya sebagai pemain. Suhendar telah menyumbangkan jasanya sebagai pelatih bersama Nandar Iskandar pada saat juara kompetisi 1986, dan 1990 dengan Ade Dana.***

Robby Kantongi Lisensi A


Asisten Pelatih Persib Bandung, Robby Darwis dinyatakan lulus dari kursus kepelatihan Lisensi A Nasional yang dilakukannya pada bulan Juni lalu di Jakarta. Bersama Robby, dua mantan pelatih Persib lainnya, Nandar Iskandar dan Djadjang Nurdjaman juga berhak mengantongi Lisensi A. Kepastian tersebut didapatkan Robby setelah ia menerima surat pengumuman resmi dari PSSI pada Rabu (27/10). Ketika mengetahui namanya masuk dalam daftar pelatih yang dinyatakan lulus, Robby pun langsung mengucapkan rasa syukur.

"Pengumuman dari PSSI sudah saya terima hari ini. Hasilnya, alhamdulillah, saya lulus. Dari Jawa Barat, pelatih lain yang lulus adalah Pak Nandar, Djadjang dan Warta (Kusuma)," kata Robby, usai sesi latihan sore Persib di Stadion Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jln. Setiabudhi Bandung, Rabu (27/10). Dikatakan Robby, dari 26 peserta yang mengikuti kursus kepelatihan Lisensi A Nasional yang digelar 7 Juni-6 Juli 2010 lalu tersebut hanya ada seorang pelatih yang dinyatakan tidak lulus yaitu Mustafa Umarela. "Di luar itu, ada lima pelatih yang harus mengulang ujiannya," kata Robby. ***